Perubahan Iklim
Memahami Hak Akses Energi dan Konsumsi Energi Cerdas melalui Konten Populer: Lengkebong 4

Seminar dan Bedah Film Lengkebong 4: “Hak atas Akses Energi dan Upaya Penghematannya", Kotamobagu, 18 Maret 2021
Climate Institute, DLH Kotamobagu, PLN Kotamobagu dan Braga Project.
Perwakilan Climate Institute, DLH Kotamobagu, PLN Kotamobagu dan Braga Project © Climate Institute

Climate Institute bersama Friedrich Naumann Foundation for Freedom Indonesia melaksanakan bedah film di Sore Kopi yang hadir pada hari Kamis, 18 Maret 2021. Peserta diskusi terdiri dari kelompok pecinta alam, pelajar, serta masyarakat umum nampak khidmat mengikuti diskusi “Bedah Film Lengkebong 4: Hak atas Akses Energi dan Upaya Penghematannya”.

Terselenggaranya diskusi tersebut berkat kerja sama dengan Inde Dou Institute dan Rumahbaca ini merupakan follow-up atas perilisan film Lengkebong 4 yang membahas mengenai isu penghematan energi.

Putri Potabuga, direktur Climate Institute yang hadir selaku narasumber membuka kegiatan dengan pemaparan mengenai konsep “jejak karbon”, yaitu jumlah karbon (gas emisi) yang dihasilkan oleh berbagai aktivitas manusia. Emisi yang dihasilkan dari aktivitas manusia menjadi penyebab perubahan iklim yang cukup krusial. 

Putri menambahkan, bahwa yang perlu kita lakukan adalah mengetahui bagaimana pola konsumsi energi kita; bagaimana proses yang terjadi, mulai dari produksi, distribusi hingga sampai ke kita sebagai konsumen dan selanjutnya adalah bagaimana mengubah pola hidup menjadi lebih ramah lingkungan. 

Sementara Denny Tereima, perwakilan PT PLN Kotamobagu menjelaskan bahwa PT PLN terus melakukan inovasi untuk energi listrik alternatif, salah satunya dengan perlahan mengkonversi bahan bakar solar menjadi biofuel yang lebih ramah lingkungan. 

Beberapa inovasi yang telah dilakukan antara lain adalah PLTBM (Pembangkit Listrik Tenaga Bio Massa) di Gorontalo yang menggunakan kulit kemiri dan tongkol jagung sebagai bahan bakar, selain itu ada juga PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) yang menggunakan kayu lontar.

Menurut Toto Susanto dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Kotamobagu, pihaknya selalu bekerja sama, mengawasi, dan bersinergi dengan PT PLN Kota Kotamobagu terkait upaya konservasi lingkungan. 

Terkait energi, DLH Kota Kotamobagu  sedang mengembangkan gas metana yang dapat dimanfaatkan menjadi energi alternatif pengganti gas elpiji. Hal ini sudah digunakan untuk skala kantor, dan rencananya akan dikembangkan menjangkau masyarakat luas. 

Toto menyampaikan bahwa DLH Kota Kotamobagu menghimbau seluruh peserta agar bijak beraktivitas dalam menghasilkan, memilah serta mengolah sampah di rumah, karena menurut prediksi, TPA Kotamobagu akan penuh dalam satu tahun lagi. 

Sebagai penutup, Vicky Mokoagow (Braga Indie Project) selaku sutradara Film Lengkebong 4 menjelaskan bahwa karya terakhirnya tersebut diangkat dari kehidupan nyata masyarakat. 

Berawal dari episode sebelumnya yang mengangkat kehidupan para penambang tradisional, di episode ini, dari hasil menambang, mereka mampu membeli berbagai macam peralatan elektronik. Fenomena ini dikaitkan dengan penggunaan energi listrik secara bijak dan cerdas.

 

*Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh Jejak News pada Kamis, 18 Maret 2021 (Tautan https://jejak.news/2021/03/18/climate-institute-dan-fnf-indonesia-gelar…)