International Academy for Leadership
Komunikasi Efektif untuk Mengkampanyekan Kebebasan

Catatan Pertemuan II Jejaring Alumni IAF Regional Asia Tenggara dan Asia Timur, Bangkok, 7-10 November 2019
Team “The Parasol Project”
Team “The Parasol Project” © Nanang Sunandar

Tim yang solid adalah syarat mutlak bagi suatu organisasi untuk mencapai misinya. Meski ungkapan ini terkesan klise, namun membangun tim yang solid dalam kenyataan tidak pernah semudah mengucapkannya. Komitmen untuk berkontribusi dan partisipasi seluruh anggota tim jelas diperlukan demi soliditas organisasi. Namun, komitmen akan mudah luntur dan partisipasi akan kehilangan arah jika seluruh anggota tim tidak memiliki persepsi yang sama tentang visi organisasi, misi yang harus dicapai, dan peran dan tanggung jawab yang diemban masing-masing anggota.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana semua prasyarat ini bisa dipenuhi agar organisasi bisa memiliki tim yang solid untuk bisa merealisasikan misinya? Lagi-lagi jawabannya mungkin terdengar klise: komunikasi. Tapi, mungkin, suatu ungkapan menjadi klise karena ia tidak pernah sungguh-sungguh mudah direalisasikan. Demikian pula halnya dengan komunikasi di antara anggota-anggota suatu organisasi.

Berangkat dari latar belakang masalah inilah, kiranya, Jejaring Alumni IAF Asia Tenggara dan Asia Timur untuk kali kedua berkumpul untuk mengkonsolidasi diri. Pertemuan kedua ini—yang diselenggarakan di Bangkok, Thailand, 7-10 November 2019—merupakan kelanjutan dari pertemuan pertama di Siem Reap, Kamboja, 28-29 Juni 2019. Saya, Nanang Sunandar (Institut Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial, INDEKS), bersama Patricia Kandou (Center for Indonesia Policy Studies, CIPS), mewakili alumni IAF dari Indonesia dalam kedua pertemuan tersebut, yang difasilitasi oleh Friedrich Naumann Foundation for Freedom (FNF) Kantor Regional Asia Tenggara dan Asia Timur.

Selain untuk memperkuat soliditas jejaring dan komitmen alumni kawasan untuk mendukung sejumlah agenda sudah dicanangkan sejak pertemuan pertama di Siem Reap, pertemuan kedua di Bangkok bertujuan untuk membekali para alumni dengan sejumlah keterampilan baru untuk diaplikasikan dalam perencanaan strategi dan pelaksanaan program-program. Selain itu, pertemuan kedua juga bermaksud membangun rasa kepemilikan para alumni atas jejaring dan program-programnya.

Menajamkan Kerangka Kerja Program

Dalam pertemuan pertama di Siem Reap, para alumni IAF dibagi ke dalam tiga kelompok, yang masung-masing merumuskan sebuah program untuk menyasar kaum muda agar terlibat aktif dalam gerakan sipil membangun masyarakat liberal-demokratis di kawasan. Program-program itu adalah (1) diseminasi gagasan-gagasan liberal dan demokrasi secara online; (2) peningkatan literasi ekonomi; dan (3) perlawanan terhadap berita palsu (fake news). Dalam pertemuan kedua di Bangkok, para alumni mempresentasikan berbagai persiapan yang sudah dilakukan pasca-pertemuan pertama.

Selain itu, berbekal sejumlah pengetahuan dan keterampilan baru yang diberikan sepanjang pertemuan kedua, para alumni juga memberikan sejumlah penajaman dalam kerangka kerja dan manajemen proyek sebelum program-program tersebut diimplementasikan pada 2020. Di antara keterampilan yang didapat dari pertemuan kedua ini adalah pemetaan dan analisis pemangku kepentingan; identifikasi, prioritasi, dan pemahaman para pemangku kepentingan kunci; komunikasi advokasi; dan penerapan metode pembelajaran aktif dalam menyelesaikan masalah-masalah yang kompleks. Seluruh proses pembelajaran dipandu oleh dua fasilitator, yaitu Chris Otero dan Ina Teves.

The Parasol Project

Kelompok pertama—di mana saya bersama sejumlah teman dari Filipina, Kamboja, Korea Selatan, Malaysia, dan Vietnam tergabung di dalamnya—mendapatkan kesempatan pertama untuk mempresentasikan perkembangan tahap persiapan program. Dalam presentasi tersebut, kelompok kami diwakili oleh Mary Kathryn Sison (Center for Liberalism and Democracy), alumni dari Filipina, yang menyampaikan kerangka kerja program yang kami sebut sebagai “The Parasol Project,” sebuah platform online yang didedikasikan untuk penyebarluasan ide-ide liberal dan demokrasi kepada kaum muda di Asia Tenggara dan Asia Timur. Tujuannya adalah meningkatkan kesadaran sosial dan ketertarikan kaum muda kawasan untuk terlibat dalam partisipasi sipil.

IAF (Internationale Akademie für Führungskräfte) merupakan sebuah program pelatihan kepemimpinan internasional. Program ini bertempat di Theodor Heuss Akademie, Gummersbach, Jerman, diselenggarakan oleh FNF Kantor Pusat di Jerman.

Presentasi “The Parasol Project”
Presentasi “The Parasol Project” © Nanang Sunandar

Untuk mencapai tujuan tersebut, The Parasol mengambil format Fan Page Facebook yang dilengkapi dengan sistem keanggotaan dengan sejumlah menu yang memungkinkan tidak hanya penyebaran ide-ide, tetapi juga interaksi di antara para anggota maupun pemirsanya. Di antara menu-menu yang dirancang adalah Issue/Advocacy Highlight, sorotan dalam bentuk artikel dan infografis tentang isu-isu kebebasan dan demokrasi yang relevan dengan kondisi aktual; Aggregates, tautan content dalam berbagai bentuk yang berasal dari website-website lain; Question/Prompt, diskusi interaktif dengan topik-topik aktual; dan sebagainya. Selain content-content yang bisa diakses oleh publik secara umum, The Parasol juga menawarkan content yang hanya bisa diakses anggota. Salah satunya, yang sedang dikembangkan dan diproyeksikan sebagai salah satu content andalan, adalah wawancara singkat dengan anak-anak muda liberal yang kiprahnya menginspirasi anak-anak muda lain dan masyarakat secara umum.

Selanjutnya, presentasi program dilanjutkan oleh dua kelompok  yang lain, yang menawarkan program literasi ekonomi dan perlawanan terhadap berita palsu. Rencananya, program dari kedua kelompok inipun akan dikoordinasikan sosialisasinya melalui The Parasol, sehingga platform ini kemudian menjadi media kampanye bersama bagi program-program Jaringan Alumni IAF Asia Tenggara dan Asia Timur. Selepas presentasi program, beberapa alumni IAF—yang baru bergabung dalam pertemuan kedua di Bangkok—menunjukkan ketertarikan untuk terlibat dalam program-program tersebut.                  

Pemangku Kepentingan dan Komunikasi Advokasi

Untuk menajamkan kerangka kerja program, Chris dan Ina, dua fasilitator yang memandu proses belajar sepanjang pertemuan, memperkenalkan beberapa tools dan keterampilan untuk diaplikasikan dalam kerangka strategi dan implementasi program. Salah satunya, yang sangat penting, ialah pemetaan dan analisis pemangku kepentingan program. Selain melalui diskusi interaktif antara peserta dan kedua fasilitator, proses belajar juga dilakukan dalam bentuk latihan menerapkan tools analisis dalam kerangka kerja program yang sudah dipresentasikan oleh masing-masing kelompok.

Sesuai kerangka yang disediakan oleh fasilitator, para pemangku kepentingan dipetakan berdasarkan dua aksis, yaitu kekuatan (power) dan kepentingan (interest) mereka terhadap program, yang kemudian melahirkan empat kuadran kelompok pemangku kepentingan, yaitu (I) kekuatan besar — kepentingan tinggi, (II) kekuatan besar — kepentingan rendah, (III) kepentingan tinggi — kekuatan rendah, dan (IV) kepentingan rendah — kekuatan rendah. Meskipun setiap kuadran bisa berisi lebih dari satu pemangku kepentingan, dalam latihan ini, fasilitator meminta setiap program memilih satu kelompok pemangku kepentingan sebagai prioritas analisis. Selanjutnya, tiap-tiap kelompok mempresentasikan hasil analisis mereka di hadapan seluruh peserta pertemuan.

Setelah latihan analisis pemangku kepentingan, keterampilan lain yang juga dibekalkan untuk para alumni IAF adalah teknik komunikasi advokasi, yakni bagaimana langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam mengkomunikasikan gagasan kepada sasaran advokasi. Ada beberapa aktivitas yang dilatihkan di sini secara berpasangan, mulai dari menawarkan suatu produk hingga melobi pejabat publik untuk mendukung suatu usulan program atau kebijakan.

Dalam aktivitas lobi kebijakan, saya berpasangan dengan Ross, seorang politisi perempuan dari Partai Gerakan di Malaysia: saya berperan sebagai pegiat sebuah organisasi masyarakat sipil yang membawa gagasan advokasi lingkungan, sedangkan Ross sebagai walikota yang harus saya yakinkan untuk mendukung gagasan saya. Komunikasi advokasi yang baik, menurut fasilitator, harus berangkat dari proses bertanya, yang bertujuan menggali informasi yang akurat tentang kebutuhan pemangku kepentingan, dilanjutkan dengan acknowledgment, yaitu mengkonfirmasi kesalingpemahaman tentang isu-isu yang dibahas, sebelum kemudian diakhiri dengan proses advokasi, yang bertujuan meyakinkan pemangku kepentingan  tentang program atau kebijakan yang diusulkan. 

Latihan Komunikasi Advokasi
Latihan Komunikasi Advokasi © Nanang Sunandar

Jet Fighters: Pentingnya Kejelasan Pesan dalam Komunikasi Tim

Banyak organisasi—dalam pengertian yang luas, yakni sebagai sebuah perkumpulan yang beranggotakan lebih dari satu orang dengan cita-cita bersama—gagal membangun soliditas tim karena komunikasi yang dilakukan antar-anggotanya gagal menyampaikan pesan-pesan secara efektif. Akibatnya, anggota-anggota organisasi sering berbeda pemahaman tentang visi, misi, dan peran dan tanggung jawab. Akibatnya bukan saja tim menjadi keropos, tetapi juga setiap anggota bergerak sesuai pemahaman masing-masing; mereka mungkin memiliki komitmen yang tinggi dan berpikir sudah berbuat yang terbaik, namun setiap langkah yang diambil justru semakin menjauhkan organisasi dari pencapaian misinya.

Mengasah Keterampilan Komunikasi dengan Permainan Jet Fighters
Mengasah Keterampilan Komunikasi dengan Permainan Jet Fighters © Nanang Sunandar

Sehubungan masalah komunikasi ini, fasilitator mengajak para peserta memainkan aktivitas permainan yang sangat menantang: jet fighters. Pertama, peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok beranggotakan masing-masing lima orang, di mana setiap kelompok diasumsikan sebagai sebuah pesawat jet yang sedang mengudara dengan lima orang awak: A, B, C, D, dan E. Setiap kelompok berlomba-lomba untuk mendaratkan pesawat berdasarkan kertas instruksi yang diberikan kepada setiap awak.

Tantangannya: setiap awak menerima hanya mengetahui instruksi untuk dirinya sendiri, juga tidak tahu apakah instruksi yang diberikan kepada setiap awak sama atau berbeda satu sama lain. Para awak memang diizinkan berkomunikasi secara tertulis dengan mediasi fasilitator. Namun, jalur komunikasi dibuat sedemikian rupa, sehingga A hanya bisa berkomunikasi dengan B, tapi tidak dengan C,D, dan E, sementara C, D, dan E hanya bisa berkomunikasi dengasn B. Dengan demikian, B menjadi semacam gate keeper, satu-satunya awak yang bisa berkomunikasi dengan seluruh awak yang lain. Lebih “gila” lagi, tak satupun di antara awak yang mengetahui siapa mereka yang menjadi pilot, yang diasumsikan paling banyak tahu informasi seputar pesawat dan bagaimana mendaratkannya.

Dalam aktivitas ini, saya berperan sebagai B, sehingga semua komunikasi yang dilakukan antar-awak berkumpul di saya. Masalahnya, dalam selubung ketidaktahuan tentang instruksi untuk masing-masing awak, setiap komunikasi yang masuk ke saya—terutama dalam fase-fase awal—nyaris semua tidak mengandung pesan yang jelas. Kadang saya berpikir apakah ini semacam pesan yang harus langsung saya sampaikan apa adanya ke awak lain, atau kode yang harus saya tafsirkan terlebih dulu. Akhirnya, sebagian komunikasi saya sampaikan apa adanya, sebagian komunikasi saya tafsirkan lebih dulu. Tapi alih-alih membantu, komunikasi semakin menimbulkan kebingungan yang berulang, sehingga kami mulai frustasi apakah kami bisa mendaratkan pesawat dengan selamat.

Setelah sekian lama kebingungan berlangsung, akhirnya kami berhasil mendaratkan jet kami dengan selamat, menyusul satu kelompok lain yang sudah berhasil mendaratkan jet mereka lebih dulu. Rupanya kami termasuk beruntung: seluruh jet yang lain gagal mendarat dengan selamat karena kegagalan mereka menjalin komunikasi yang baik dengan seluruh awaknya.

Satu pelajaran penting terkait peran saya sebagai B dalam permainan jet fighters ialah: jangan pernah meneruskan informasi yang tidak kamu pahami kepada orang lain. Aktivitas ini, di satu sisi, menegaskan pentingnya kita untuk menyampaikan maksud secara jelas ketika kita menyampaikan pesan kepada orang lain, dan, di sisi lain, pentingnya validasi atas kebenaran maksud sebuah pesan sebelum kita meneruskan atau menyebarluaskannya kepada pihak lain. Meneruskan informasi yang tidak kita pahami kepada pihak lain hanya akan memperluas kebingungan, dan bahkan, dalam banyak kasus, bisa berakibat fatal.

***

Pertemuan Jaringan Alumi IAF Regional Asia Tenggara dan Asia Timur Kedua di Bangkok, 7-10 November 2019, berdampak sangat besar terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan saya, khususnya dalam menjalin komunikasi yang baik dengan anggota tim dan dalam mengadvokasi gagasan terkait suatu kebijakan kepada para pejabat publik. Semua itu akan sangat berguna bukan hanya dalam rangka optimalisasi keterlibatan saya dalam kerja-kerja jaringan alumni IAF regional, tetapi juga dalam rangka penguatan solidititas tim dalam organisasi saya sendiri, INDEKS. Kepada FNF Kantor Regional Asia Tenggara dan Asia Timur yang sudah memfasilitasi kehadiran saya dalam pertemuan ini, juga kepada Sophanna dan tim kepanitiaan yang sudah mengorganisasi kegiatan ini, saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya.

For Freedom!       

*Artikel ini adalah tulisan dari alumni delegasi IAF asal Indonesia, Nanang Sunandar yang bekerja sebagai Co-Founder and Executive Director di INDEKS (Institute for Democracy and Social Welfare).