Demokrasi
Menjadi Muda-Mudi Toleran yang Bertanggung Jawab

Jogjakarta, Jakarta, Surabaya, Bandung, Agustus - September 2019
RDM-FMI
Untuk membentuk sikap yang toleran, mula-mula peserta diajak untuk dapat menerima diri sendiri dan orang lain © FNF Indonesia, CIPS

Menjadi gaul dan bebas pasti menjadi keinginan banyak anak muda. Namun bagaimana jika anak muda hanya diberikan kebebasan tanpa ada pembekalan untuk menavigasi kebebasan tersebut? Apakah mereka akan mengambil keputusan-keputusan yang terbaik bagi hidup mereka?

Percaya bahwa setiap manusia memiliki hak untuk menentukan nasib sendiri, Friedrich Naumann Stiftung, bersama dengan Center for Indonesian Policy Studies mengadakan seri lokakarya “Muda, Toleran dan Bertanggung Jawab” di empat universitas di Jakarta, Jogjakarta, Surabaya, dan Bandung” selama bulan Agustus hingga September. Adapun kegiatan ini bertujuan untuk membekali para peserta mahasiswa untuk dapat menjawab tantangan pergaulan di masa kini dengan membuat keputusan-keputusan yang bertanggung jawab untuk kehidupan mereka. Selain itu, dilatarbelakangi pula oleh keprihatinan akan kondisi toleransi umat beragama di Indonesia dewasa ini, kegiatan ini juga menanamkan nilai-nilai toleransi dan moral universal seperti kebenaran, kasih saying dan antikekerasan kepada para peserta melalui metode-metode pembelajaran interaktif yang dipandu oleh Indika Foundation sebagai fasilitator.

RDM-FMI
Peserta mengidentifikasi fitur tubuh dan sifat yang dimilikinya dan menempelkannya pada kertas matriks © FNF Indonesia, CIPS

Mengawali lokakarya ini, para peserta diminta untuk bergerak dan memosisikan diri mereka dalam sebuah peta imajiner sesuai dengan tempat kelahiran mereka, tempat asal orang tua mereka dan tempat impian mereka di masa depan. Melalui sesi ini, para peserta menyadari bahwa dalam ruangan kecil yang tampak homogen ternyata terdapat latar belakang yang beragam. Setelah itu, dalam permainan mengenal aku, peserta diajak untuk mengidentifikasi fitur tubuh dan sifat mereka dan mengisi sebuah matriks Fisik-Non Fisik dan Perlu diubah-tidak perlu diubah. Lewat permainan ini, peserta diharapkan dapat lebih menerima dirinya dan orang lain di sekitar mereka.

Melanjutkan sesi penerimaan diri, fasilitator mengajak para peserta untuk menuliskan kata-kata apa saja yang mereka pikirikan ketika mereka mendengar nama sebuah suku atau mata pencaharian dan menempelkannya pada dua buah balon. Setelah itu peserta dibagi menjadi dua kelompok dan masing-masing berperan sebagai anggota sebuah suku dengan sifat dan ciri khas yang bertolak belakang. Konflik dan ketidaksepahaman pun terjadi ketika kedua suku bertemu. Merefleksikan permainan ini, peserta diminta untuk mendeskripsikan suku lain yang mereka temui. Deskripsi-deskripsi tersebut kemudian ditempelkan juga pada balon. Mengacu pada deskripsi-deskripsi pada balon, peserta bersama fasilitator kemudian mendiskusikan bagaimana memisahkan prasangka dari fakta.

Mengakhiri lokakarya ini, peserta kembali dibagi menjadi beberapa kelompok dalam sesi berpikir kritis. Masing-masing kelompok berperan mewakili pendapat pro atau kontra terhadap isu-isu terkini yang menjadi perhatian masyarakat dan anak muda seperti masalah KKN, kerja paruh waktu, hingga isu pemindahan ibu kota. Secara berkelompok mereka kemudian mendiskusikan pendapat mereka melalui empat tahap berpikir kritis, yakni: penyampaian opini, validasi bukti, analisis bukti dan penentuan sikap.

Sebagai kelanjutan dari lokakarya ini, peserta diajak untuk mendaftarkan diri dan berpartisipasi aktifa dalam dua kursus daring yang diproduksi oleh Akademi CIPS yaitu “Keyakinan dan Indonesia Masa Kini” dan “Gaul Boleh, Ceroboh Jangan”